News

Mengenal Karakteristik Sirkuit Yas Marina

sean-gelael.com
Jakarta – Untuk mayoritas penggemar balap mobil, sirkuit Yas Marina di Abu Dhabi bisa jadi adalah sirkuit balap mobil permanen satu-satunya yang identik dengan balap malam.

Ini tentunya karena balap mobil Formula 1 selalu dilombakan pada malam hari di sana. Untuk kejuraran Formula 2 akhir
minggu ini, balap di sirkuit Yas Marina akan dilombakan malam untuk Race 1 dan siang hari untuk Race 2.

Berhubung menjelang akhir November kawasan Timur Tengah sudah memasuki musim dingin, suhu udara di sana saat siang pun cukup nyaman. Untuk balap Formula 2 akhir minggu ini diramalkan cuaca cerah dengan suhu udara maksimum 28 derajat Celcius pada siang hari.Ini lebih dingin dari suhu di Jakarta misalnya, yang bisa melebihi 34 derajat Celcius pada siang hari.

Dengan kondisi seperti ini, balap pada siang hari di sirkuit sepanjang 5.5km ini tidaklah terlalu istimewa. Lain halnya
dengan balap malam.

Saat langit mulai gelap, jangan mengira bahwa lintasan balap di sirkuit Yas Marina akan terang benderang seperti Singapore Grand Prix. Memang ada lampu penerangan di seluruh area sirkuit, namun intensitas keterangannya jauh di bawah Singapore yang memang dirancang untuk terang benderang seperti siang hari meski matahari telah terbenam.

Saat berlomba malam hari di sirkuit Yas Marina, gelapnya malam cukup terasa dan dapat mempengaruhi pebalap terutama saat sedang fight, karena saat seperti itu pebalap tentunya perlu melirik kaca spion meski hanya bisa sekejap, atau memantau gerakan musuhnya hanya dengan menggunakan penglihatan periferal.

Sirkuit yang rekor waktu putaran tercepatnya dicatat oleh Sebastian Vettel pada tahun pembukaannya di 2009 memiliki tikungan yang bervariasi dan beberapa cukup teknikal. Tikungan pertama ke kiri 90 derajat diikuti tikungan S kecepatan tinggi yang naik turun seakan memperkenalkan sirkuit Yas Marina kepada para pebalap baru sambil mengingatkan agar jangan diremehkan.

Dengan panjang hampir 1.2km, trek lurusnya adalah salah satu yang terpanjang dari semua sirkuit Formula 1 dan memungkinkan pencapaian top speed, sebelum kemudian pebalap harus melakukan pengereman memasuki tikungan 8-9 yang patah dan kecepatannya paling rendah di sana.

Saat memutari sirkuit dengan 21 tikungan ini, 55% waktu ini dihabiskan para pebalap dengan injakan gas penuh. Belum lagi tikungan 15-16- 17, 3 tikungan beruntun ke kanan yang makin
patah, sering memakan korban.

Sirkuit yang biaya pembangunannya konon mencapai Rp17 triliun ini memiliki hubungan jangka panjang dengan Formula 2, karena event perdananya adalah sesi testing GP2 pada tahun 2009.
Share this Post:

Related Posts: